AB dan BC, Efek Psikis Bagi Dosen

Satu pagi di akhir semester lalu, Agung Army Bakti tak menduga akan kena sial. Bekti, begitu biasa ia disapa, bersama beberapa temannya berjalan menuju ruang satu dosen siang hari itu. Dia ingin tahu nilai apa yang ia capai untuk mata kuliah Fisika Dasar II.

Tiba di ruang dosen, Bekti menerima lembar jawaban UAS miliknya. Sesaat ia tak merasa aneh. Membolak-balik lembar jawaban, dan memerhatikan angkanya, ia maklum. Tapi setelah ia melihat nilai akhir yang disodorkan sang dosen, ia jadi mengutuk diri. Tipis. Nilai akhirnya 59,2. Hanya butuh 0,8 untuk menjadikan nilainya B. Dia memohon sedikit kebijakan pada sang dosen. Dosen tetap kokoh. Dan akhirnya Bekti rela, sekitar 14 poin dari nilai akhirnya terlesap, menjadi C.

Mulai semester ini, kekhawatiran Bekti mungkin bisa berkurang. ITB telah menetapkan sistem penilaian baru dengan memberlakukan nilai AB untuk B “gemuk”, dan BC untuk C “gemuk”. Nilai AB menunjukkan poin 3,5, dan BC menunjukkan 2,5. Prof. Ir. Adang Surahman, Ph.D., Wakil Rektor Senior Bidang Akademik ITB, menyampaikan kebijakan baru ini pada acara Penyegaran Dosen ITB, Agustus lalu.

Kebijakan sistem penilaian ini berangkat dari ketidakadilan penilaian yang dialami oleh mahasiswa. ITB ingin keakuratan penilaian yang dilakukan dosen mencerminkan kualitas mahasiswa. “Kalau pakai A, B, C saja, menurut hemat kami, itu terlalu kasar, “ kata Adang.

Ketidakakuratan nilai berdampak pada Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Saat IPK mahasiswa kecil, ia akan sulit mencari beasiswa atau pekerjaan. Walau Adang mengakui, pada dasarnya, lulusan ITB tidak akan kesulitan mencari pekerjaan, ia tetap mengkhawatirkan ketimpangan penilaian yang merugikan mahasiswa.

Faktor lain yang mendasari kebijakan ini adalah dosen-dosen ITB relatif pelit memberikan nilai. Prof. Dr. Ir. Enri Damanhuri, dosen Program Studi Teknik Lingkungan, mengaku prihatin akan hal ini. Enri bercerita bahwa dosen ITB yang juga mengajar di universitas lain selalu menganggap bahwa mahasiswa S1 ITB adalah “anak sendiri”, berbeda dengan mahasiswanya yang lain. Saat “anak sendiri”, nilai A dianggap sebuah keistimewaan. “Biar aja orang luar menilai ITB itu, 2,75 sama dengan 3,5 di tempat lain, selalu begitu argumen dosen,” contoh Enri. Tapi dosen ITB tak sadar, menurut Enri, bahwa mahasiswa ITB akan dinilai bersama dengan yang lain.

Enri punya metode penilaian sendiri di tiap mata kuliahnya. Dia selalu menghitung indeks prestasi mahasiswa per mata kuliah. Baginya, jika indeks prestasi lebih kecil dari tiga, artinya ia gagal mendidik. Enri membantah jika ada yang mengatakan bahwa nilai kecil yang diperoleh mahasiswa ITB karena tidak cerdas. “Kalau saya membandingkan, karena saya juga dulu pernah ngajar di universitas lain, bukan sombong ya, dalam hal kecerdasan mahasiswa ITB, mata kuliah yang sama, saya harus memberikannya dengan cara yang lain agar bisa diterima oleh mereka (mahasiswa universitas lain, red.),” cerita Enri.

ITB memang tidak menetapkan metode dan standard penilaian tersendiri. ITB hanya menganjurkan tiap dosen menganut kriteria Bloom dalam menilai. Kriteria Bloom merupakan tingkatan kemampuan mahasiswa, dari yang terendah, yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, dan sintesis. Nilai D, misalnya, menunjukkan mahasiswa hanya mampu memahami, atau nilai A yang memperlihatkan mahasiswa tidak hanya bisa memahami, mengaplikasi, dan menganalisis, tapi juga dapat bersintesis. Untuk mengetahui tingkat kemampuan mahasiswa tersebut, dosen merancang soal ujian sedemikian rupa agar dapat menggali kriteria Bloom dalam diri mahasiswa.

Adang mengakui bahwa sebagian besar dosen ITB belum menerapkan konsep Bloom. “Ada saja dosen yang soal ujiannya tidak mempunyai dicriminating power, atau degree of difficulty-nya gak bener. Kalo soal terlalu susah, orang yang pintar dengan yang biasa-biasa sama-sama gak bisa,” kata Adang.

Kriteria Bloom pun punya kelemahan. Jika dosen menerapkan konsep Bloom dalam memberikan nilai secara kuantitatif, jelas akan mengalami distorsi. Seberapa besar distorsi yang terjadi, tergantung seberapa besar dosen sadar akan proses pembelajaran yang ia lakukan. Tidak dapat terhindarkan jika seorang dosen menetapkan kemampuan pemahaman, aplikasi, analisis, dan sintesis diwakili oleh angka 90 yang bagi mahasiswa sangat sulit untuk dicapai.

Demi menghindari distorsi interpretasi terhadap kriteria Bloom, beberapa dosen memilih menggunakan sistem rata-rata. Sistem ini biasa digunakan oleh dosen yang meyakini bahwa standard mahasiswa selalu sama dari tahun ke tahun. Hanya saja, “Kalo begini cara menilainya, kita gak terlalu peduli dosennya salah bikin soal atau gak. Soal ujian hanya membandingkan mana yang lebih pinter, dan mana yang lebih bodoh, bukan melihat seberapa banyak menguasai materi,” jelas Adang.

Kebijakan sistem penilaian baru tidak akan berdampak besar pada keseragaman metode dan standard penilaian dosen. Enri mengatakan bahwa tiap dosen memiliki kebanggaan tersendiri memiliki suatu cara dalam menilai mahasiswanya. Pada tahap ini lah, menurut Enri, dosen dituntut kreatif, asal tidak kebablasan. Walau kecil kemungkinan sistem penilaian baru memengaruhi hal-hal teknis dari penilaian dosen, tapi setidaknya, kata Adang, “Dengan ada sistem baru ini, ada efek psikologis buat dosen.” (Arfah)

Comments are closed.