Gede Raka: “Climbing the Wrong Tree?”

Itulah metafor yang digunakan Prof. Dr. Ir. Ida I Dewa Gede Raka, MEIE untuk menggambarkan banyak usaha dilakukan tapi tidak relevan dengan apa yang ingin dicapai. Ibaratnya hendak memetik buah mangga, tapi yang dipanjat pohon pinang. Pertanyaan itu pula yang perlu dicermati oleh ITB dalam melakukan perubahan untuk menjadi World Class University. Namun benarkah perubahan itu mengarah pada tercapainya ITB sebagai perguruan tinggi kelas dunia? Lebih jauh lagi, bagaimanakah sosok kelas dunia itu?

Tak seperti mangga, konsep perguruan tinggi kelas dunia sendiri abstrak. Rasa, karakteristik maupun penampilan perguruan tinggi kelas dunia memiliki ragam penafsiran yang bisa berbeda bagi tiap orang, karena itu menurut dosen senior di Teknik Industri ini, diperlukan sebuah model. Baik itu dengan merujuk perguruan tinggi-perguruan tinggi seperti MIT, Caltech, Harvard, Columbia University, Princeton, Yale atau ITB membangun sosok model perguruan tinggi kelas dunia tersendiri.

Sebagai salah satu pendekatan dalam melakukan ‘assesment’ apakah ITB memanjat pohon yang salah atau tidak, Raka mengusulkan agar dalam merancang program perubahan dan menilai hasil perubahan pimpinan institusi memusatkan perhatian pada faktor-faktor kunci keberhasilan atau key success factor (KSF). Pendekatan ini sering dipakai dalam pengembangan strategi bisnis.

Anggota Majelis Guru Besar dan mantan anggota Majelis Wali Amanat ini mencontohkan perbedaan faktor kunci keberhasilan dalam bisnis semen dan fashion. Pada industri semen yang bergantung pada sumber daya alam dan kecil sekali kemungkinannya untuk melakukan diversifikasi produk , maka salah satu faktor kunci keberhasilannya adalah efisiensi, baik dengan memiliki akses dekat ke sumber daya alam, maupun dekat dengan pasar. Sedangkan pada industri fashion, kuncinya terletak pada kreativitas untuk terus menciptakan terobosan-terobosan baru. Bagaimana dengan pendidikan? Apa yang membuat MIT, Harvard, Princeton diakui sebagai perguruan tinggi kelas dunia?

“Pertama, mereka itu atraktif bagi staf pengajar atau calon staff pengajar yang paling hebat.. Jadi orang orang dengan kualifikasi akademik yang tertinggi ramai-ramai mau menjadi staf pengajar di perguruan tinggi tersebut. Best brain , beautiful mind mau bergabung ke sana. Jadi perguruan tinggi tersebut menjadi pilihan teaching staff yang memiliki kualifikasi tertinggi dalam bidangnya .” Salah satu tolak ukur sederhana adalah apakah lulusan terbaik ITB atau lulusan perguruan tinggi terbaik yang lain sekarang atau di masa yang akan datang memilih untuk bekerja sebagai dosen di ITB untuk menjadi dosen atau bekerja di tempat lain? Kalau jawabannya bekerja di tempat lain, artinya ITB menjadi kian tidak menarik, artinya ITB akan makin kehilangan kemampuan untuk membangun salah satu faktor kunci sukses untuk menjadi universitas kelas dunia.

Faktor kunci yang kedua adalah perguruan tinggi tersebut atraktif bagi atau menjadi pilihan calon mahasiswa terbaik, tidak hanya sekarang, namun juga di masa yang akan datang. Faktor kunci keberhasilan yang ketiga adalah kemampuan untuk mempertahankan (retain) dan mengembangkan orang-orang terbaik tersebut agar tetap berkarya di ITB. Menurut Raka, “Cara retain ini macam-macam, bisa lewat imbalan material, tapi yang tidak kalah penting, recognition atau penghargaan . Mereka merasa di sini diperlakukan sebagai orang yang bermartabat. Ini yang sangat penting, non-material.”

Faktor kunci keberhasilan berikutnya adalah perguruan tinggi yang bersangkutan menarik bagi orang-orang atau lembaga yang memiliki banyak sumber daya , khususnya dana, untuk menginvestasikan dananya. Perguruan tinggi tersebut menjadi pilihan untuk berinvesatasi atau untuk mitra kerja sama. Di perguruan tinggi-perguruan tinggi dunia, khususnya di Amerika, dana abadi (endowment fund) menjadi salah satu sumber yang mendorong kemajuan dan pengembangan perguruan tinggi. Penghargaan bagi para filantropis ini biasanya diwujudkan dalam bentuk pencantuman nama pada gedung atau fasilitas lain yang disumbangkan, namun kini muncul pendekatan sebaliknya, yaitu mengajak para alumninya untuk menyumbang agar sebuah gedung tak diberi nama orang tertentu. Dalam konteks ITB, hubungan antara perguruan tinggi dan alumni harus dibingkai kembali, ”karena begini, saya melihat dalam kurun dua tiga empat hingga lima tahun mendatang, kalau berharap pada anggaran pemerintah tidak banyak (yang bisa diharapkan) . ITB perlu menggalang semua potensi yang dimiliki, termasuk alumni. Agar institut ini bisa memberikan kontribusi yang besar. Saya merasa alumni ini belum diberi tempat yang seharusnya bisa lebih (besar).” Daya tarik agar orang-orang mau bekerjasama dan menginvestasikan dananya di perguruan tinggi merupakan kunci sukses yang keempat.

Kunci sukses yang terakhir adalah responsif; “perguruan tinggi ini harus responsif terhadap perkembangan, ilmu pengetahuan, teknologi, kebutuhan masyarakat, panggilan nusa dan bangsa. Jadi dia harus sensitif. Dia tidak boleh jadi institusi yang self serving, (melakukan sesuatu) hanya untuk dirinya sendiri. Perguruan tinggi harus jadi institusi yang serve (masyarakat luas) , bukan serve dirinya sendiri.”

Kelima faktor-faktor kunci keberhasilan yang diungkapkan Raka menjadi landasan tiap kali mengambil sebuah keputusan, entah itu pemberlakuan jam malam, penambahan jumlah fakultas, ataupun keputusan-keputusan lainnya. Berbagai rapat yang membuahkan keputusan memang telah menunjukan bahwa civitas academica ITB telah bekerja keras dan peduli pada nasib kampus tercinta, tapi apakah kerja keras tersebut memberi nilai tambah, tidak relevan atau justru berdampak negatif? Jika hasilnya tak memberi nilai tambah, maka mungkin kita telah memanjat pohon yang salah.[]

Comments are closed.