Indon(esia!)
Ikram Putra
Berkala ITB
Pandangan mata saya tak sengaja tertumbuk pada berita singkat itu; yang berkejaran dengan berita lain di sisi bawah layar Metro TV. Isinya kurang lebih begini: masyarakat Indonesia di Malaysia memprotes media Malaysia yang sering menulis “Indon” untuk “Indonesia”.
Dari Detikcom dan ANTARA saya kemudian membaca berita yang lebih lengkap. Rupanya, pada Sabtu (12/5) silam, berlangsung seminar di Kuala Lumpur yang bertajuk “Indonesia dalam Pandangan Pers Malaysia”. Pada seminar inilah protes tadi dilancarkan.
“Di dunia ini tidak ada yang mengenal Indon. Yang adalah Indonesia,” kata Eka A. Soeripto, Atase Penerangan KBRI Malaysia. Ucapan Eko ditanggapi oleh Zainudin Ayib, redaktur tajuk rencana pada Berita Harian yang mengatakan “kata itu hanyalah merupakan kependekan saja. Bukan bermaksud untuk melecehkan dan merendahkan bangsa Indonesia.”
Sampai sini saya tidak bisa tidak tersenyum. Sebagai bagian dari bangsa yang tak kalah seringnya memenggal kata, buat saya protes masyarakat Indonesia itu terasa menggelikan.
Mungkin karena saya berasal dari Depok, Jawa Barat. Kalau suatu hari nanti Anda berkesempatan mengunjungi kota asal saya itu, jangan heran jika mendengar para supir angkot D.06 ramai-ramai berteriak “minal” atau “pangan!” kepada penumpang. Bukan, mereka bukan sedang mengucapkan “minal aidin wal faidzin” atau sesuatu yang berhubungan dengan “sandang pangan papan”. Yang mereka maksudkan adalah “(ter)minal” dan “(sim)pangan” – sesuai trayek mereka.
Supir-supir yang lain juga tak mau kalah. “Minggu minggu!” bagi mereka yang hendak menuju Pasar Minggu. “Bayoran” untuk Kebayoran. “Mestik” untuk Mayestik. Dan “Rambutan!” – supir yang satu ini bukan sedang beralih jadi penjual buah, tapi murni menyerukan tujuan dia: Kampung Rambutan.
Ketika pergi ke Bandung untuk berkuliah, saya menemukan hal serupa terjadi juga di sini. “Sion” kata supir angkot yang menuju Statsion. Lalu ada pula supir yang menyebut “Caheum” untuk Cicaheum, serta “Panjang!” untuk Terminal Leuwipanjang. Saya tak heran.
Bagaimana dengan kampus? Well, saya memang jarang pergi meminjam buku ke perpus. Tapi saya sering kok berjalan kaki melewati plawid. Biasa saja. Kalau sedang suntuk, maka dalam kuliah saya tidak akan konsen dan perlu entertain. Sangat wajar. Teman-teman saya banyak pula yang mengucapkan Amrik dan Aussie. Mereka yang pakai distro Ubuntu akan menginginkan DVD repo supaya tidak payah mendownload lagi.
Sepupu saya, yang mendapat nilai jelek dalam ulangan umumnya, bercerita dirinya pekan depan akan menghadapi remed. Sama sekali tanpa maksud melecehkan atau merendahkan. Dan di Friendster teman saya mengirim pesan “Krom, kemana aja? Isi testi gua yak!”
Pemerintah saya? Oh, mereka bertahun-tahun sudah melakukannya. Apalagi militer/kepolisian. Coba saja, kita tentu akrab dengan jargon, akronim, dan singkatan, yang menurut Farid Gaban (wartawan, pernah berkuliah di Planologi) bertujuan supaya “kelompok masyarakat lain tidak paham apa yang mereka katakan dan apa yang mereka lakukan”.
Saya hidup di lingkungan manusia penyingkat dan pemenggal kata. Saya akan merasa sangat malu untuk memprotes orang lain supaya berhenti melakukannya, sementara bangsa saya sendiri melakukan hal serupa. Setiap hari setiap saat.
***
Tentu saja, persoalannya tidak sesederhana itu. Saya tidak boleh menutup mata bahwa dalam kehidupan, tidak semua kata halal disingkat. Pasti ada alasan yang kuat mengapa kita menyebut para orangtua sebagai “lanjut usia” (lansia) ketimbang “usia lanjut” (sialan). Dan mengapa teman-teman dari Sumatera Selatan tidak membentuk Keluarga Mahasiswa Palembang (sebab nanti bisa-bisa disingkat kampang). Konotasinya buruk!
Dan inilah yang terjadi pada “Indon”. Konotasinya konon buruk.
Kata “Indon” mulai menjadi populer di Malaysia ketika media sana menyiarkan berita mengenai perbuatan kriminal yang dilakukan orang Indonesia. Misalnya, “Mafia Indon Mengganas” atau “PRT Indon Menculik Anak”. Lambat laun, persepsi orang terhadap “Indon” tidak lagi bagus (atau setidaknya netral) melainkan jelek. Seorang teman pernah bercerita, “Indon” artinya mirip “Preman” di sini. Anak yang nakal akan dimarahi, “Mau jadi apa kamu nanti? Mau jadi indon?”
Sayangnya, pemberitaan ini tidak seimbang. Dalam seminar yang sama, pengamat media dari Universiti Kebangsaan Malaysia Nasrullah Ali-Fauzi, mengatakan, pers Malaysia dalam menyiarkan berita kriminal seringkali mengutip hanya satu sumber saja, yakni kepolisian. Tidak ada usaha-usaha penelusuran lebih jauh.
“Akibatnya banyak pekerja Indonesia dirugikan,misalkan, PRT Indon dituduh mencuri anak padahal jika si terdakwa diwawancari ternyata anak itu merupakan hasil dari perselingkuhan. Anak itu juga merupakan anak PRT Indonesia padahal sudah ramai pers Malaysia memberitakan hal itu,” kata Nasrullah.
Hmm, untuk urusan check and balance sepertinya media kita juga sama malasnya. Maka baik mereka maupun kita sepertinya mesti sama-sama belajar supaya lebih ketat lagi dalam verifikasi.
Tapi tetap, menolak kata “Indon” sebab ia berkonotasi kriminal dan buruk adalah sebuah langkah aneh. Pertama, kata “Indon” tidak berarti apa-apa. Sepanjang kata itu tidak ring a bell di kepala saya, saya sih santai saja. Ini sama seperti kita dipanggil “xeslgh@%#sd;ai”. Tak ada arti, mana bisa ada konotasi.
Lagipula media Malaysia tidak secara khusus menyebut “Indon” untuk urusan kriminalitas semata. Farah Mahdzan, seorang Malaysia yang memiliki perhatian besar terhadap masalah Indonesia, di blognya menunjukkan kliping judul berita di beberapa media. Di antaranya: “Indon pop diva launches autobiography”, “SBY’s hit list: Indon president gives cops 100 days to nab top M’sian terrorists” dan “Indon politicians in bitter dispute” dan masih ada lagi.
Zainudin Ayip benar. “Indonesia” rupanya terlalu panjang sehingga sulit untuk ditulis atau diucapkan penuh. Kita bisa bilang apa? Padahal antara “Indonesia” dan “Malaysia” hanya berbeza satu huruf sahaja, ya kan Encik? Tak apalah. Kami tak kisah.
Kedua, masalah konotasi adalah masalah pencitraan dan persepsi. Baik dipenggal maupun ditulis utuh, kata “Indonesia” sudah memiliki citra sendiri. Ucapkan “Indonesia” kepada 100 orang dan kita akan mendapatkan 100 persepsi yang berbeda. Baik buruk halus kasar, itu terserah mereka. Ini urusan persepsi – tak bisa kita paksakan supaya citra kita selalu bagus. Berusaha supaya bagus iya, memaksakan tidak.
Bagaimana caranya supaya citra bagus? Mengutip kalimat diplomat terkenal mantan duta besar RI di Australia Wiryono Sastrohandoyo, “If you want to change the perception, you should change the reality first.”