Mengatasi Masalah Energi Bangsa dengan Energi Terbarukan
Oleh Yuti Ariani
Pada Minggu(12/11/06) itu, lapangan basket Campus Center dipenuhi tenda-tenda berwarna putih. Mahasiswa berolahraga dengan celana pendek dan kaos oblong yang merupakan pemandangan biasa di sana, tidak terlihat. Sebagai gantinya, orang-orang bercelana panjang katun dipadu baju berwarna hijau putih tampak mendominasi suasana. Maklum, di Campus Center sedang ada acara bertajuk “5% Biofuel Car’s Road Show”.
Saat melihat acara ini, seorang teman saya langsung berkomentar, “Apa nilai berita dari acara ini?”
Jawabannya bisa sangat beragam. Mulai dari liputan acara itu sendiri hingga wacana energi terbarukan. Pascakenaikan harga BBM beberapa waktu silam, wacana energi terbarukan memang kembali marak diperbincangkan. Tanaman jarak dan kelapa sawit yang dapat digunakan untuk biodiesel mulai menarik minat investor. Hangatnya wacana ini tak hanya sampai di kalangan pengusaha, tapi juga artis. Belum usai kisah mengenai jarak dan sawit dalam mengurangi ketergantungan atas bahan bakar fosil, muncul pula alternatif baru, yaitu singkong dan tebu yang digunakan untuk pembuatan ethanol.
Pengembangan biodiesel dan bioethanol terkait dengan isu global, yaitu tingginya kebutuhan energi. Di Brasil, sejak 1975, telah dimulai program Pro-Alcool (Program Alkohol Nasional) yang dipicu krisis minyak di negara tersebut dua tahun sebelumnya. Hingga saat ini, program tersebut telah berhasil mengurangi 10 juta mobil berbahan bakar bensin. Pajak yang tinggi bagi bensin dan subsidi pemerintah bagi usaha ethanol, menyebabkan industri ethanol berkembang dengan subur di Brazil.
Program Pro-Alcool yang diterapkan Brazil tak hanya sebatas kampanye penanaman tebu serta subsidi, namun juga terkait dengan penggunaan ethanol secara meluas. Hal ini tercermin dari pompa bensin yang menyediakan dua jenis bahan bakar, gasoline dan ethanol, serta produksi mobil dengan mesin berbahan bakar ethanol maupun combo (dua jenis bahan bakar). Apresiasi masyarakat terhadap perubahan ini tampak dari peningkatan pembelian mobil berbahan bakar ethanol. Dalam kurun waktu 1983 hingga 1988, 90% penjualan didominasi mobil berbahan bakar ethanol.
Keberhasilan Brazil mengindikasikan energi masa depan yang berorientasi pada energi terbarukan. Kecenderungan ini juga tampak di Austria, yang selain menggunakan biofuel untuk kendaraan juga telah memanfaatkan air, angin, matahari, dan geotermal sebagai penghasil listrik. Di Indonesia, penelitian energi alternatif (non-bahan bakar fosil) juga telah dilakukan sebelum isu mengenai kelangkaan BBM mencuat, meski masih lebih banyak datang dari kalangan akademisi. Cara pandang ini terkait erat dengan kecenderungan pembangunan Indonesia yang selama lebih dari 50 tahun mengandalkan BBM.
Untuk mengurangi ketergantungan pada BBM, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM), yang diikuti oleh Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2006 (tertanggal 25 Januari) tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain.
Apa yang dilakukan oleh pemerintah lewat Instruksi Presiden merupakan indikasi adanya sebuah gerakan bersama untuk mendukung perkembangan energi alternatif. Gerakan bersama ini tercermin pada logo di umbul-umbul yang memenuhi sekeliling lapangan basket yang berasal dari kalangan industri otomotif, perguruan tinggi, komunitas energi terbarukan, serta instansi pemerintah yang bergerak di bidang teknologi. Adanya berbagai logo tersebut merupakan simbol adanya upaya bersama untuk mendukung pengembangan energi alternatif.
Namun benarkah biofuel merupakan solusi dari tingginya harga BBM? Lebih lanjut, apa saja yang perlu dilakukan agar pengembangan biofuel dapat berjalan di Indonesia?
Apa yang dilakukan oleh pemerintah Brazil dengan program Pro-Alcool menunjukan keterlibatan banyak pihak dalam menyukseskan biofuel sebagai pengganti BBM. Kemudahan untuk usaha di bidang pertanian tebu, subsidi, hingga mesin yang dibuat untuk mengakomodasi keunikan bioethanol dibandingkan dengan BBM. Selain faktor yang terkait langsung dengan objek teknis, seperti mesin mobil, pertanian tebu, serta industri pengolahan tebu menjadi bioethanol, pemerintah Brazil juga melakukan kampanye untuk mengajak masyarakat agar turut berpartisipasi.
Kajian mengenai pemilihan energi terbarukan juga harus dilakukan dengan memperhitungkan iklim, alokasi lahan, dan efek substitusi jika suatu tanaman dialihkan fungsinya menjadi untuk energi. Sebagai ilustrasi, pertanian dan perkebunan yang dijadikan sumber ethanol, juga digunakan untuk bahan baku di sektor petrokimia dan pangan. Artinya, luas lahan yang dikembangkan untuk pertanian dan perkebunan harus memperhitungkan kebutuhan masyarakat yang terkait dengan sektor lain.
Sekilas dilema di atas bisa dipecahkan dengan memperluas lahan pertanian/perkebunan. Namun jawabannya menjadi tidak sesederhana itu jika melihat luasnya lahan yang dibutuhkan untuk bahan bakar nabati. Seorang penulis blog, Priyadi, melakukan kalkulasi mengenai luas lahan yang dibutuhkan dengan menghitung kebutuhan BBM, perbandingan konsumsi bioethanol dengan bensin dan biodisel dengan petrodiesel. Dari hasil perhitungan tersebut, diketahui untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar masyarakat Indonesia (dengan menggunakan data kebutuhan masyarakat akan BBM pada tahun 2003) adalah seluas 23672 km² ladang tebu dan 83773 km²ladang pohon jarak. Bandingkan dengan luas lahan tebu di Indonesia pada tahun 2004 yang hanya 4200 km².
Sebagai permulaan, penggunaan bahan bakar nabati masih sebatas campuran dengan kadar 5-10% sehingga kebutuhan luas lahan tidak sebesar yang disebutkan di atas. Namun selain mengamini Instruksi Presiden tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain, kita harus mampu menjawab pertanyaan: akan dibawa kemanakah pengembangan biofuel Indonesia?
Sekadar latah dengan kecenderungan biofuel yang menjadi isu global, atau usaha sungguh-sungguh untuk mengatasi masalah energi bangsa?[]